Leageg
Top brand t shirt
Kamis, 05 Juli 2012
Minggu, 01 Juli 2012
New Collection
pre order kaos
kaos pre order mahasiswa . unik dan kreatif. follow us di kaos Leageg http://www.facebook.com/Leagege
pre order
Pre order kaos unik san kreatif asal bandung merek leageg. cek desain kami disini. apabila anda punya desain sendiri bisa tonjok kami..add us http://www.facebook.com/Leagege
Leageg
kaos yang unik dan kreatif berkualitas tinggi harga bersahabat satu lagi merek kaos bandung yaitu LEAGEG
Kaos Leageg
Kaos Leageg adalah kaos yang berasal dari hasil tumpahan pemikiran kritis seseorang. yang mencoba menyalurkanya lewat fashion yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang
Kaos Distro
Kaos Distro - Distro dan industri clothing kini sudah menjadi industri besar meskipun pelakunya banyak yg berskala kecil atau amat kecil. Menurut Fiki, setidaknya terdapat 400 industri clothing dan kaos distro di Bandung dgn omzet Rp 25 miliar per bulan. Distro pun sudah menyebar di 94 kota di Indonesia.
Mode indie di Indonesia memiliki beberapa kemiripan dgn apa yg terjadi di Barat atau di Jepang. Komunitas anak muda yg merasa tak terwakili identitasnya oleh mode utama dan jaringan ritel besar mencari jawaban dgn modenya sendiri.
Di Tokyo lahir gaya Harajuku yg terbagi menjadi belasan subgaya. Di Barat lahir beatnik pada tahun 1950-an, hippie pada 1960-an, dan punk pada 1980-an dgn subgaya seperti skinhead, hardrock, dan heavymetal.
Kaos Distro Gaya hippie mencirikan diri mereka dgn baju motif berbunga, baju dgn jurai di bagian tepi, dan rambut panjang, sementara punk menegaskan identitas mereka melalui rantai, jins koyak, serta rambut berdiri dan dicat pucat.
Mereka sengaja menjaga jarak dan membedakan diri dari kelompok budaya utama di masyarakat. Meskipun kelompok ini ada dari kelompok minoritas, tetapi di Barat motornya adalah anak muda kelas menengah (Fred Davies, 1994, Fashion, Culture, and Identity).
Meski begitu, pada pergantian abad ke-20, arus utama mode mulai mengadopsi berbagai gaya yg berasal dari pinggir, yg ”liyan”. Desainer muda yg muncul pada era itu, entah karena mengalami sendiri atau karena melihat, dan ingin muncul dgn ”gaya berbeda” lalu mengadopsi gaya berpakaian ekstrem itu, seperti Jean-Paul Gauliter dan Vivienne Westwood pada awal karier mereka. Kini, keduanya adalah desainer dan pengusaha mode besar di arus utama.
Sejarah Kaos
Kaos Oblong T-shirt alias (T-shirt atau tee) adalah kemeja, rajutan tipis yang cara memakainya dilewatkan atas kepala untuk menutupi sebagian besar tubuh seseorang.
Di Indonesia, kata T-shirt diterjemahkan menjadi Kaos Oblong.
Terjemahan ini pun tidak terlepas dari sejarah perjalanan kaos itu sendiri. Dalam Kamus Indonesia-Inggris Hassan Shadily (1997) menyamakatakan Kaos Oblong dengan kata kaos dalam, singlet, dan undershirt.
T-shirt biasanya terbuat dari serat kapas atau polyester (atau dari dua campuran), rajutan bersama dalam stitch jersey yang memberikan T-shirt khas tekstur yang lembut. T-shirt bisa dihiasi dengan teks dan / atau gambar, dan kadang-kadang digunakan untuk iklan
T- Shirt atau kaos oblong pada awalnya digunakan sebagai pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad 19 sampai awal abad 20.
Masyarakat umum belum mengenal penggunakan kaos atau T-Shirt dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, para tentara yang menggunakan T-Shirt polos tanpa desain ini pun hanya menggunakannya ketika udara panas atau aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam. Ketika itu warna dan bentuknya (model) itu-itu melulu. Maksudnya, benda itu berwarna putih, dan belum ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan
T-shirt alias kaos oblong ini mulai dipopulerkan sewaktu dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. dan film Rebel Without A Cause (1995) yang dibintangi James Dean. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan. Tak pelak, muncullah polemik seputar kaos oblong.
Polemik yang terjadi yakni, sebagian kalangan menilai pemakaian kaos oblong – undershirt – sebagai busana luar adalah tidak sopan dan tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda pasca pentas teater tahun 1947 itu, justru dilanda demam kaos oblong, bahkan menganggap benda ini sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan, bagi anak muda itu, kaos oblong bukan semata-mada suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari keseharian mereka.
Polemik tersebut selanjutnya justru menaikkan publisitas dan popularitas kaos oblong dalam percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula mereka meragukan prospek bisnis kaos oblong. Mereka mengembangkan kaos oblong dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Citra kaos oblong semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan berkaos oblong yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang iklan produk tersebut.
Mungkin, dikarenakan oleh maraknya polemik dan mewabahnya demam kaos oblong di kalangan masyarakat, pada tahun 1961 sebuah organisasi yang menamakan dirinya “Underwear Institute” (Lembaga Baju Dalam) menuntut agar kaos oblong diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Mereka mengatakan, kaos oblong juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode.
Demam kaos oblong yang melumat seluruh benua Amerika dan Eropa pun terjadi sekita tahun 1961 itu. Apalagi ketika aktor James Dean mengenakan kaos oblong dalam film “Rebel Without A Cause”, sehingga eksistensi kaos oblong semakin kukuh dalam kehidupan di sana.
Perlahan namun pasti, T-shirt mulai menjadi bagian dari busana keseharian yang tidak hanya dipakai untuk daleman, tetapi juga menjadi pakaian luaran. Pada pertengahan tahun 50an, T-shirt sudah mulai menjadi bagian bagian dari dunia fashion. Namun baru pada tahun 60an ketika kaum hippies mulai merajai dunia, T-shirt benar-benar menjadi state of fashion itu sendiri. Sebagai sebuah simbol (lagi-lagi) anti kemapanan, para hippies ini menggunakan T-shirt/kaos sebagai salah satu simbolnya. Semenjak saat itulah revolusi T-shirt terjadi secara total. Para penggiat bisnis menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi medium promosi yang amat efektif serta efesien. Segala persyaratan sebagai medium promosi yang baik ada di T-shirt. Murah, mobile, fungsional, dapat dijadikan suvenir, dan seterusnya.
Disaat yang bersamaan, kelompok-kelompok tertentu macam hippies, komunitas punk, atau organisasi politik, juga menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi medium propaganda yang sempurna selain medium yang telah ada. Statement apapun dapat tercetak diatasnya, tahan lama, dan penyebarannya mampu melewati batas-batas yang tidak dapat dicapai oleh medium lain, seperti poster misalnya.
Dengan segala kesempurnaannya, T-shirt tidak lagi menjadi sederhana. Jelas, secara fungsional benda tersebut masih berlaku sebagai sebuah sandang. Namun dibalik itu semua, T-shirt memiliki value yang melebihi dari fungsi dasarnya. Desain T-Shirt yang terus berkembang sampai sekarang selaras dengan perkembangan manusia dan teknologi yang memang terus berkembang. Sejarah akan terus mencatat desain berbagai kaos seperti tie dye yang lekat dengan flowers generation, komunitas punk yang lekat dengan T-Shirt sobek, polos bahkan dengan desain typohraphy yang mencolok, dan siapa yang tidak kenal dengan kaos I Love New York yang fenomenal itu.
Desain T-Shirt yang kemudian menjadi semacam aktualisasi pemakainya, bisa diramalkan akan tetap terus digemari. Elemen desain berupa typohraphy yang sangat menarik dan penuh maksud sangat berpeluang diminati masysrakat. Apalagi perkembangan dunia konsumen yang sangat memanjakan aktualisasi pribadi. Siapa pun Anda, konsumen, pemilik perusahaan, manajeman band, atau siapapun, bisa dengan mudah menunjukkan siapa diri Anda hanya dengan memakai T-Shirt dengan desain typohraphy atau perpaduan elemen desain lain.
Pemakaian kaos dalam berbagai kesempatan memberikan juga peluang bagi para desainer dalam berkarya. Fungsinya yang semakin melebar sangat bisa mendukung perkembangan desain itu sendiri. Kreatifitas menggunakan medium T-Shirt dalam berkarya desain membuka peluang pemaknaan karya desain serta perluasan pengetahuan tentang desain pada msyarakat. Berjamurnya clothing dan distro di kalangan bisnis modern adalah salah satu kemajuan yang positif dalam dunia desain. Berbagai karya desain yang diimplementasikan dalam medium T-Shirt memberi warna bagi kehidupan, tidak hanya bentukan huruf tapi foto, karya desain yang dulu tidak memungkunkan untuk menggunakan media T-Shirt, kini semuanya menjadi mungkin. Namun, perkembangan yang demikian masif harus tetap juga disikapi dengan baik, kemasifan sesuatu hal terkadang menjadikan desain hanya sebagai produk instan yang tidak memperhatikan faedah-faedah desain, karena itulah pengetahuan desainer akan prinsip-prinsip desain sangat diperlukan.
Di Indonesia, konon, masuknya benda ini karena dibawa oleh orang-orang Belanda. Namun ketika itu perkembangannya tidak pesat, sebab benda ini mempunyai nilai gengsi tingkat tinggi, dan di Indonesia teknologi pemintalannya belum maju. Akibatnya benda ini termasuk barang mahal.
Namun demikian, kaos oblong baru menampakkan perkembangan yang signifikan hingga merambah ke segenap pelosok pedesaan sekitar awal tahun 1970. Ketika itu wujudnya masih konvensional. Berwana putih, bahan katun-halus-tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum pria. Beberapa merek yang terkenal waktu itu adalah Swan dan 77. Ada juga merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan lain-lain. Dan tren kaos oblong rupa-rupanya direkam pula oleh Kartunis GM Sudarta melalui tokoh Om Pasikom dan kemenakannya dengan tajuk “Generasi Kaos Oblong” (Harian Kompas, 14 Januari 1978).
Sumber : http://www.thefreedictionary.com/T-shirt http://www.artikata.com/arti-181797-t-shirt.html http://en.wikipedia.org/wiki/T-shirt http://customtshirt2008.wordpress.com/category/sejarah-t-shirt/ http://www.elcogarment.com/e-article/sejarah-t-shirt.html http://www.terminalbaju.com/news-10-sejarah-tshirt-kaos kaos
Sejarah Kaos
Rebel Without a Cause: inilah film yang semakin memopulerkan kaos oblong alias T-shirt, terutama di kalangan kaum muda pada paruh kedua era 1950-an. James Dean, aktor utama dalam film produksi tahun 1955 itu, mengenakan kaos oblong, celana blue jeans dan tentu saja jaket merah—jangan lupa pula rambut jambulnya. T-shirt, jins, dan jaket kulit kemudian menjadi semacam simbol pemberontakan kaum muda.
Sebelumnya, Marlon Brando mengagetkan dunia mode dengan kaosnya lewat film A Streetcar Named Desire tahun 1951. Dalam poster resmi film arahan sutradara Elia Kazan itu tampak Brando mengenakan T-shirt putih dengan lengan tergulung sehingga memperlihatkan lengannya yang gempal. Ia tengah memeluk Vivien Leigh, aktris rekan mainnya dalam film tersebut. Kaos sejak itu menjadi alternatif gaya berpakaian kaum muda.
Marlon Brando dan James Dean adalah pemberontak yang menjadikan kaos populer lewat film layar lebar. Perlu dicatat, mereka saat itu menggunakan kaos polos tanpa sentuhan grafis sedikit pun.
Kaos terbukti diterima kaum muda. Buku The T-Shirt: A Collection of 500 Design yang disusun Luo Lv, Zhang Huiguang menuliskan pada paruh kedua 1960-an, kaos telah menjadi medium penyampai ekspresi, identitas kelompok, dan protes.
Generasi Bunga dengan kaum hippies-nya menggunakan kaos ikat-celup sebagai identitas kaumnya. Model ini menyebar hingga Indonesia sampai ke tingkat kampung-kampung. Muncullah kaos yang dicelup ke dalam cairan pewarna wantek. Sebelumnya, kaos diikat dengan senar—seperti teknik jumputan.
Protes kaum muda pada kebijakan perang Vietnam di akhir 1960-an melancarkan protes damai dengan kaos ”Make Love Not War” dan ”Give Peace a Chance”. Salah satu pemakainya adalah John Lennon, penggubah lagu ”Give Peace a Chance”. Simbol perdamaian, peace, rancangan Gerald Holtom yang berbentuk seperti kemudi mobil itu tertera di kaos dan dikenakan orang di mana-mana, termasuk Indonesia.
Sejak itu kaos tak pernah lepas dari kultur kaum muda dan mereka yang berhati muda. Kaos menjadi penyampai segala bentuk ”ideologi” dari musik, selera, sampai politik.
Ini merupakan ”evolusi” karena sebelumnya kaos adalah undershirts alias pakaian dalam yang lewat proses panjang menjadi pakaian luar dan bagian dari pop culture. Tahun 1913 angkatan laut AS menjadikan T-shirt sebagai pakaian pelapis resmi. Prajurit yang ditempatkan di daerah berhawa panas sering hanya mengenakan T-shirt. Sejak saat itu, tepatnya pada tahun 1920, T-shirt masuk entri dalam kamus Merriam—Webster.
Dinamika mode tak pernah berhenti. Mereka yang mengingkari putaran mode akan berisiko menjadi out of date atau penghuni museum.
Ukuran
COWOK DEWASA :
Ukuran XXL
Tinggi : 78 cm
Lebar : 58 cm
Ukuran XL
Tinggi : 75,5 cm
Lebar : 55 cm
Ukuran L
Tinggi : 73 cm
Lebar : 52 cmUkuran M
Tinggi : 70,5 cm
Lebar : 49 cm
Ukuran XXL
Tinggi : 78 cm
Lebar : 58 cm
Ukuran XL
Tinggi : 75,5 cm
Lebar : 55 cm
Ukuran L
Tinggi : 73 cm
Lebar : 52 cmUkuran M
Tinggi : 70,5 cm
Lebar : 49 cm
Ukuran S
Tinggi : 68 cm
Lebar : 46 cm
Tinggi : 68 cm
Lebar : 46 cm
Kamis, 28 Juni 2012
Leageg 1
JENIS RAJUTAN UNTUK BAHAN KAOS
JENIS RAJUTAN UNTUK BAHAN KAOS
1. SINGLE KNITT
(Contoh:Cotton Combed 20s,24s,30s,40s,huruf S berarti single knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan jarum single. Penggunaan bahan kaos hanya satu permukaan saja,artinya kaos tidak bisa digunakan dibolak-balik (2 permukaan). Jenis rajutan rapat,bahan padat,kurang lentur (stratching). Sebagian besar produk kaos yang ada di pasaran adalah memakai jenis rajutan Single Knitt.
2. DOUBLE KNITT
(Contoh:Cotton Combed 20d,24d,30d,40d,huruf D berarti double knitt)
Sebutan lainnya adalah interlock. Pengertian teknisnya adalah rajutan Jarum Double sehingga bahan kaos bisa digunakan bolak-balik (atas bawah tidak masalah). Jenis rajutan tidak rapat,bahan kenyal,lembut,dan lentur. Produk kaos yang biasa memakai rajutan jenis ini adalah pakaian untuk bayi dan anak-anak.
3. PIQUE ATAU LACOSTE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan texture / corak atau motif. Penggunaan tidak bisa dibolak-balik. Jenis rajutan bertexture,bulat,kotak,atau menyerupai segitiga kecil-kecil. Sebagian orang ada yang menyebut bahan ini Cuti,dan hanya lazim digunakan untuk Polo Shirt atau Kaos Kerah. Sama seperti combed,kain pique/lacoste di pasaran dapat dibedakan berdasarkan bahan dasarnya (cotton,cvc,polyseter),jenis benangnya (20′s,30′s),serta corak rajutannya.
4. STRIPER ATAU YARN DYE
Pengertian teknisnya adalah rajutan kombinasi benang warna (Yarn Dye). Penggunaan tidak bisa di bolak-balik. Jenisnya bisa Single Knitt maupun Double Knitt. Finishing harus openset / belah. Orang awam menyebut bahan ini dengan sebutan bahan salur / warna-warni. Biasa digunakan untuk produk kaos dewasa (Pria,Wanita,T-Shirt,maupun Polo Shirt).
5. DROP NEEDLE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan variasi cabut jarum. Penggunaannya bisa di bolak-balik. Jenis rajutan texture garis lurus vertikal,lembut,dan lentur. Produk kaos ini banyak digunakan untuk Rib Leher (T-Shirt),Ladies T-Shirt Body Fit,dan kaos singlet.
1. SINGLE KNITT
(Contoh:Cotton Combed 20s,24s,30s,40s,huruf S berarti single knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan jarum single. Penggunaan bahan kaos hanya satu permukaan saja,artinya kaos tidak bisa digunakan dibolak-balik (2 permukaan). Jenis rajutan rapat,bahan padat,kurang lentur (stratching). Sebagian besar produk kaos yang ada di pasaran adalah memakai jenis rajutan Single Knitt.
2. DOUBLE KNITT
(Contoh:Cotton Combed 20d,24d,30d,40d,huruf D berarti double knitt)
Sebutan lainnya adalah interlock. Pengertian teknisnya adalah rajutan Jarum Double sehingga bahan kaos bisa digunakan bolak-balik (atas bawah tidak masalah). Jenis rajutan tidak rapat,bahan kenyal,lembut,dan lentur. Produk kaos yang biasa memakai rajutan jenis ini adalah pakaian untuk bayi dan anak-anak.
3. PIQUE ATAU LACOSTE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan texture / corak atau motif. Penggunaan tidak bisa dibolak-balik. Jenis rajutan bertexture,bulat,kotak,atau menyerupai segitiga kecil-kecil. Sebagian orang ada yang menyebut bahan ini Cuti,dan hanya lazim digunakan untuk Polo Shirt atau Kaos Kerah. Sama seperti combed,kain pique/lacoste di pasaran dapat dibedakan berdasarkan bahan dasarnya (cotton,cvc,polyseter),jenis benangnya (20′s,30′s),serta corak rajutannya.
4. STRIPER ATAU YARN DYE
Pengertian teknisnya adalah rajutan kombinasi benang warna (Yarn Dye). Penggunaan tidak bisa di bolak-balik. Jenisnya bisa Single Knitt maupun Double Knitt. Finishing harus openset / belah. Orang awam menyebut bahan ini dengan sebutan bahan salur / warna-warni. Biasa digunakan untuk produk kaos dewasa (Pria,Wanita,T-Shirt,maupun Polo Shirt).
5. DROP NEEDLE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan variasi cabut jarum. Penggunaannya bisa di bolak-balik. Jenis rajutan texture garis lurus vertikal,lembut,dan lentur. Produk kaos ini banyak digunakan untuk Rib Leher (T-Shirt),Ladies T-Shirt Body Fit,dan kaos singlet.
JENIS BENANG UNTUK BAHAN KAOS
JENIS BENANG UNTUK BAHAN KAOS
1. BENANG 20S
Untuk jenis rajutan Single Knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 180 sampai dengan 220 gram/m2.
2. BENANG 24S
Untuk jenis rajutan Single Knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 170 sampai dengan 210 gram/m2.
3. BENANG 30S
untuk jenis rajutan single knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 140 sampai dengan 160 gram/m2.untuk jenis rajutan Double Knitt, Gramasi 210 sampai dengan 230 gram/m2.
4. BENANG 40 S
untuk jenis rajutan single knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 110 sampai dengan 120 gram/m2.Untuk rajutan Double knitt, Gramasi 180 sampai dengan 200 gram/m2.
1. BENANG 20S
Untuk jenis rajutan Single Knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 180 sampai dengan 220 gram/m2.
2. BENANG 24S
Untuk jenis rajutan Single Knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 170 sampai dengan 210 gram/m2.
3. BENANG 30S
untuk jenis rajutan single knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 140 sampai dengan 160 gram/m2.untuk jenis rajutan Double Knitt, Gramasi 210 sampai dengan 230 gram/m2.
4. BENANG 40 S
untuk jenis rajutan single knitt, ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 110 sampai dengan 120 gram/m2.Untuk rajutan Double knitt, Gramasi 180 sampai dengan 200 gram/m2.
Jenis Sablon Kaos
Jenis Sablon Kaos
Soft Rubber
Memberikan hasil sablon yang menutupi permukaan bahan, biasanya diaplikasikan ke bahan berwarna gelap. Kelebihan dari soft rubber adalah hand-feel yang lembut dan nyaman dipakai.
Foaming / Puff
Memberikan efek timbul yang sisi tepi itu berbentuk bulat / tidak tajam.
High Density
Memberikan efek timbul dalam bentuk 3 dimensi dan sisi tepi berbentuk tajam.
Glow in the Dark
Hasil sablon akan bernyala terang ketika gelap.
Crack
Memberikan efek retak pada hasil sablon
Pigment
Hasil sablon menyerap ke dalam bahan sehingga tidak teraba sama sekali oleh tangan, biasanya diaplikasikan ke bahan berwarna terang.
Suede
Memberikan efek foaming / puff dengan hand-feel bludru atau flocking.
Reflective
Memberikan efek mata kucing atau seperti scotchlite 3m.
Photoprint
Hasil sablon persis sama dengan foto full color.
Powder / Glitter Printing
Memberikan efek sablon sesuai dengan powder / glitter seperti efek emas/gold, efek silver, efek pelangi, hologram, dan lain lain.
Jenis-jenis Bahan Kaos
Jenis-jenis Bahan Kaos
1. COTTON COMBED
cotton combed sering digunakan untuk kaos distro, umumnya cotton combed yang digunakan untuk distro menggunakan jenis 20s dan 30s. jenis cotton yang satu ini mempunyai serat benang yang lebih halus, rajutan dan tampilan bahan lebih halus dan rata, berdasarkan jenis benang yang digunakan serta setting gramasi (gr/m2) di mesin rajutnya, memiliki beberapa jenis yaitu : 20s, 24s, 30s, 40s. bahan ini mampu menyerap keringat dan tidak panas karena terbuat dari serat kapas alam.
2. COTTON CARDED
cotton carded memiliki serat benang yang kurang halus. hasil rajutan dan tampilan kurang halus serta kurang rata. cotton carded juga mempunyai beberapa jenis yaitu : 20s, 24s, 30s, 40s. walaupun kurang halus tapi bahan ini tetap enak untuk dipakai dan harganya yang relatif lebih murah di bandingkan cotton combed. bahan ini mampu menyerap keringat dan tidak panas karena terbuat dari serat kapas alam.
3. CVC ( COTTON VISCOSE)
Jenis bahan ini adalah campuran dari 55% Cotton Combed dan 45% Viscose. Kelebihan dari bahan ini adalah tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton. Jenis bahan ini juga bersifat menyerap keringat.
4. TC (TETERON COTTON)
Jenis bahan ini adalah campuran dari 35% Cotton Combed dan 65% Polyester (Teteron). Dibandingkan bahan kaos katun (Cotton),bahan TC kurang bisa menyerap keringat dan agak panas di badan. Kelebihannya jenis bahan TC lebih tahan ’shrinkage’ (tidak susut atau melar) meskipun sudah dicuci berkali-kali. Harganya pun relatif lebih murah.
5. POLYESTER atau PE
Jenis bahan ini terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi kemudian dibuat untuk bahan kaos berupa serat fiber poly. Karena sifat bahan dasarnya,maka jenis bahan ini tidak bisa menyerap keringat dan panas jika dipakai.
6. HYGET Jenis bahan ini juga terbuat dari plastik,namun lebih tipis. Banyak digunakan untuk keperluan kampanye partai karena harganya yang sangat murah.
1. COTTON COMBED
cotton combed sering digunakan untuk kaos distro, umumnya cotton combed yang digunakan untuk distro menggunakan jenis 20s dan 30s. jenis cotton yang satu ini mempunyai serat benang yang lebih halus, rajutan dan tampilan bahan lebih halus dan rata, berdasarkan jenis benang yang digunakan serta setting gramasi (gr/m2) di mesin rajutnya, memiliki beberapa jenis yaitu : 20s, 24s, 30s, 40s. bahan ini mampu menyerap keringat dan tidak panas karena terbuat dari serat kapas alam.
2. COTTON CARDED
cotton carded memiliki serat benang yang kurang halus. hasil rajutan dan tampilan kurang halus serta kurang rata. cotton carded juga mempunyai beberapa jenis yaitu : 20s, 24s, 30s, 40s. walaupun kurang halus tapi bahan ini tetap enak untuk dipakai dan harganya yang relatif lebih murah di bandingkan cotton combed. bahan ini mampu menyerap keringat dan tidak panas karena terbuat dari serat kapas alam.
3. CVC ( COTTON VISCOSE)
Jenis bahan ini adalah campuran dari 55% Cotton Combed dan 45% Viscose. Kelebihan dari bahan ini adalah tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton. Jenis bahan ini juga bersifat menyerap keringat.
4. TC (TETERON COTTON)
Jenis bahan ini adalah campuran dari 35% Cotton Combed dan 65% Polyester (Teteron). Dibandingkan bahan kaos katun (Cotton),bahan TC kurang bisa menyerap keringat dan agak panas di badan. Kelebihannya jenis bahan TC lebih tahan ’shrinkage’ (tidak susut atau melar) meskipun sudah dicuci berkali-kali. Harganya pun relatif lebih murah.
5. POLYESTER atau PE
Jenis bahan ini terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi kemudian dibuat untuk bahan kaos berupa serat fiber poly. Karena sifat bahan dasarnya,maka jenis bahan ini tidak bisa menyerap keringat dan panas jika dipakai.
6. HYGET Jenis bahan ini juga terbuat dari plastik,namun lebih tipis. Banyak digunakan untuk keperluan kampanye partai karena harganya yang sangat murah.
Langganan:
Komentar (Atom)


